Korban Kapal Fery Dumai Ekspres 10  22 Nopember 2009 Tetap Mengejar Keadilan

             Kendati sudah melintasi waktu selama lebih kurang 14 tahun sampai November 2023 ini, namun para Korban yang selamat dari renggutan maut pada peristiwa Tenggelamya NV Fery Dumai Ekspres 10 pada hari minggu tanggal 22 Nopember 2009, empat tahun silam. Tetap kami akan terus menuntut kata Zulfan Ajhari Siregar, yang kebetulan saat ini bertugas sebagai Pimred Media On Line ini.

            Peristiwa tersebut tidak bisa dianggap sebagai peristiwa yang sepele saja, walaupun Rezim saat itu melaksanakan tanggung jawabnya mengecewakan, katanya. Menurut kami penumpang yang selama lebih dari 100 orang penumpang hilang dan tewas, sementara jumlah tersebut terus mimanipulasi. Bahkan kata Zulfan, KNKT juga terjebak dalam Laporan Publik yang tidak akurat, saya bertanggung jawab atas statemen ini katas Zulfan.Dalam laporan Publik KNKT disebutkan bahwasanya bayi dan anak-anak yang ikut dalam pelayaran maut itu, semua tewas dan hilang. Sementara kata Zulfan, dia membawa seorang anak berusia sembilan tahun, yang selamat setelah dia berusaha sekeras mungkin menyelamatkan anaknya itu. Zulfan menyesalkan, bahwasanya data yang dikutip KNKT, tidak menyibak data lain diluar manifest yang jumlah penumpang sebenarnya disembunyikan pihak Perusahaan. Sehingga tidak ditemukan data pasti atas peristiwa itu. Kata dia, pihak perusahaan sudah memanipulasi data, itukan bentuk kriminal. Penghilangan bukti perkara yang seharusnya bisa menggiring terang benderangnya masalah itu.

          Pada Minggu 22 November 2009 itu, Loket Perusahaan Dumai Ekspres tetap melayani penumpang, menjual Ticket  sama bentuknya dari  Tcket yang sudah terjual sebelumnya. Penumpang tidak pernah tahu, bahwasanya ticket yang mereka jual  dan dibeli penumpang sudah over kapasitas. Penumpang diterima di Kapal, walaupun terlihat penumpang padat. Penumpang tidak tahu berapa kapasitas angkut Kapal itu. Yang disesalkan lagi, pihak kesahbandaran, mengapa diam atas over kapasitas penumpang itu.Berarti ada kerja sama yang buruk, yang menyebabkan terjadinya banyak kematian atas peristiwa itu, toh sanksi yang diterima pihak-pihak termasuk petugas dan pihak perusahaan tidak terlihat secara pasti. Sebelum Kapal berangkat, kami penumpang menerima informasi dari ABK bahwasanya penumpang diatas Kapal itu, sekitar lebih 400 orang. Ternyata setelah kejadian,yang tersisa selamat hanya 255 orang. Kami sebagai penumpang berkeyakinan yang tewas dan hilang dalam peristiwa itu, lebih seratus orang. Dan kemudian memunculkan data yang tidak singkron, ketika Mediasi antara pihak kami dengan pihak PT.Lestari Indoma Bahari yang di Mediasi KomnasHAM, dipimpin Josef  Adiprasetyo, saya sempat hampir meluapkan emosi. Pihak Perusahaan mengakui korban tewas dan hilang hanya sekitar 37 orang. Kata Zulfan , jelas manipulasi angka kematian penumpang. Sementara pihak KNKT dalam laporan Publiknya mencatat korban tewas dan hilang sekitar 70 orang. Itupun kami anggap belum merupakan data yang akurat kata Eks Penumpang Dumai Ekspres 10 yang berhasil selamat dalam peristiwa maut itu. Mediasi yang dilakukan KomnasHAM kami nilai tidak bertanggung jawab, digantung tanpa tali. Padahal antara kami dengan pihak PT.Lestari Indoma Bahari sudah menanda tangani kesepakatan, ikut ditanda tangani KomnasHAM, bahwasanya Mediasi akan dilanjutkan. Tapi entah apa yang terjadi, Mediasi itu tidak dilanjutkan KomnasHAM kami sebagai korban, tertunggu-tunggu., tanpa berita pemberitahuan pasti penghentian Mediasi itu. Zulfan Ajhari Siregar mengakui, banyak mata rantai buruk dalam peristiwa itu. Begitu kami tiba di evakuasi ke Pelabuhan Dumai. Seseorang sudah menwarkan uang suap kepada saya, saya tolak. Saya ingin disuap untuk tidak ikut-ikutan ribut di Pelabuhan Dumai. Kebetulan di Tanjung Balai Karimun, Korban Selamat menghunjuk saya sebagai Juru bicara. Saya ternyata gagal, saya  gagal dalam mengemban amanah para korban yang kecewa, itulah penderitaan bathin saya. Selama waktu berjalan saya sudah berusaha mencari Keadilan itu, saya belum berhasil. Saya tidak mendapat dukungan untuk Keadilan itu, entah kemana bisa saya temukan.

            Setiap November sepanjang hidup saya, saya sangat terbebani dengan kesedihan. Dihadapanb saya yang sudah berada di skoci atau Lif Kraft penyelamat, Kapal itu tenggelam saya pandang hanya berjarak paling jauh lima belas meter. Saya masih melihat penumpang-penumpang  perempuan, yang sudah tidak berdaya ,  yang menjerit-jerit meminta tolong lalu ditelan gelombang. Itulah pemandangan  yang membuat hati saya men jerit, saya selalu menangis ketika mengenang itu. Ketika itu saya dan penumpang lain tidak berdaya. Sekoci kami  tidak punya alat penggerak, baik mesin maupun pendayung. Hanya hanyut dibawa air, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka tewas satu persatu dihadapan kami.Saya tidak bisa melupakan pemandangan itu, ken yataan yang mengiris perasaan saya. Sementara orang-orang hanya berusaha melakukan trik manipulasi, demi melin dungi Perusahaan tersebut, tanpa berusaha mendukung saya yang terbebani munculnya kebenaran yang sebenar-benarnya. Ujar Zulfan Ajhari  Siregar, Wartawan yang sudah mengabdi sejak tahun 1985. Dia memendam derita tas peristiwa itu, terakhir dia ungkap “ Saya Dendam terhadap siapapun yang menutup-nutupi kasus itu “.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *