Ketika Makna Gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Bagi Seorang Guru Mulai Pudar

Catatan :
Daud Pakpahan SPd,
Kepala Sekolah SMP Negeri 04 Bilah Hilir

Riset dan data UNESCO menyatakan bahwa, “Teacher is the single most important factor in education quality.” Guru adalah inti dari kualitas pendidikan sebuah bangsa, bukan teknologi, bukan gedung, dan bukan kurikulum yang terus berubah,’

LABUHANBATU, (NusarayaExpose.Com): Pasca peristiwa serangan Bom atom Amerika di kota Hiroshima dan Nagasaki Jepang tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Kaisar Jepang Hirohito langsung mempertanyakan jumlah guru yang masih tersisa, bukanya menanyakan jumlah tentara yang gugur, maksud tujuan Kaisar Hirohito agar para guru yang tersisa ini akan kembali menjadi motor untuk membangun kembali peradaban di Jepang.

Benar saja, pasca kalah perang. Jepang kembali tumbuh menjadi negara maju penguasa pasar teknologi dan ekonomi hingga sempat berhasil menjadi puncak kekuatan ekonomi Asia.

Sesuai Riset dan data UNESCO menyatakan bahwa, “Teacher is the single most important factor in education quality.” Guru adalah inti dari kualitas pendidikan sebuah bangsa, bukan teknologi, bukan gedung, dan bukan kurikulum yang terus berubah.

Meski dunia sepakat guru merupakan pondasi vital kemajuan suatu bangsa. Namun di Indonesia, ironi justru masih tampak begitu jelas. masih ada lebih dari 40% guru honorer yang menerima gaji di bawah upah minimum regional.

Banyak yang hanya dibayar Rp300.000 hingga Rp700.000 per bulan, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk biaya transportasi dan makan sehari-hari.

Sementara itu, beban administrasi dan tuntutan profesional semakin berat akibat standar kurikulum yang makin kompleks. Dalam kondisi seperti ini, adilkah kita masih menyebut guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” tanpa memastikan bahwa jasa itu benar-benar dihargai dan dimaknai sesuai hakekatnya.

Kita selalu diajarkan untuk menghormati guru. Kita selalu diajak mengingat betapa pentingnya peran pendidik dalam membangun bangsa. Setiap tahun, ketika Hari Guru tiba, pujian selalu mengalir deras.

Di panggung-panggung sekolah, anak-anak membacakan puisi, para pejabat menyampaikan sambutan, dan media sosial penuh dengan ucapan terima kasih.

Dan di antara serangkaian penghormatan itu, satu gelar kembali diangkat yaitu pahlawan tanpa tanda jasa.

Sebagai guru, kami tidak pernah meminta gelar tersebut. Ia hadir sebagai bentuk penghormatan bangsa terhadap profesi yang membangun pondasi peradaban.

Namun, hari ini saya bertanya dalam hati, apakah gelar itu masih benar-benar berharga di hatimu? atau hanya menjadi simbol yang semakin kehilangan maknanya? Atau mungkin ia berubah menjadi sekadar slogan setiap November tiba?

Di ruang kelas, guru tidak hanya mengajar, kami hadir untuk merawat mimpi-mimpi kecil, Kami menjadi pengganti orang tua ketika siswa mengalami masalah di rumah.

Kami menjadi konselor ketika ada yang patah hati, tertekan, atau kehilangan arah. Kami menjadi motivator ketika mereka mulai ragu terhadap masa depannya.

Semua itu dilakukan di tengah tuntutan masyarakat yang semakin kritis, bahkan terkadang keras. di era ketika satu video yang hanya berdurasi 20 detik dapat menghakimi seluruh kerja bertahun-tahun seorang guru.

Sehingga saya berpikir, semakin ke sini, gelar pahlawan itu sering terasa seperti ironi. Guru mudah disalahkan ketika ada masalah di sekolah, mudah dihakimi oleh media sosial ketika terjadi konflik, dan kadang tidak cukup dilindungi oleh hukum ketika berhadapan dengan tekanan orang tua.

Pengabdian yang seharusnya dihormati justru sering dianggap kewajiban yang tak pantas dituntut balas jasa. Seolah-olah kata “tanpa tanda jasa” bermakna bahwa guru tidak layak menuntut kesejahteraan, perlindungan, atau penghargaan profesional.

Padahal, seorang guru tetaplah manusia. Kami memiliki keluarga yang perlu dinafkahi, harga diri yang perlu dijaga, dan keamanan yang perlu dilindungi. Kami membutuhkan penghargaan yang wajar, bukan pemujaan setahun sekali.

Guru bukan sekadar alat produksi pendidikan; kami adalah pilar utama bangsa yang bekerja dalam senyap, sering kali tanpa saksi.

Karena itu, pertanyaan saya sederhana:
Masihkah gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ itu berharga di hatimu? Masihkah ia menjadi bentuk penghormatan, atau kini hanya ungkapan yang diucapkan karena sudah menjadi kebiasaan?

Gelar itu akan tetap bermakna apabila masyarakat, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan benar-benar menghargai perjuangan guru bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam kebijakan, perlindungan hukum, dan perhatian nyata terhadap kesejahteraan mereka. Guru tidak meminta untuk disanjung, tetapi kami berharap dihargai secara manusiawi dan profesional.

Jika bangsa ini ingin masa depannya cerah, maka hormatilah mereka yang menyalakan cahaya penuntun. Jangan biarkan gelar pahlawan itu menjadi hiasan kosong. Jadikan ia komitmen moral bersama untuk merawat martabat profesi guru.

Sebab pada akhirnya, masa depan sebuah negara ditentukan bukan oleh megahnya gedung, bukan oleh canggihnya teknologi, tetapi oleh mereka yang dengan sabar membentuk akal dan hati generasi penerusnya.Dan kami, para guru, hanya ingin tahu: apakah perjuangan kami masih berharga di hatimu?(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *