Sumber Dana Rehab Total Jalan Profinsi Pantai Labuhan Batu Menjadi Isue Liar

Sub Kontraktor Kurang Berselera Takut Pengalaman Pahit

          Sudah merupakan tradisi di Negeri ini, setiap ada realisasi Pembangunan. Proyek Fisik Pasti banyak yang nimbrung, Apakah itu  nimbrung karena diberi sedikit peluang, untuk ikut berperan di lapangan. Atau mungkin ada peluang kesempatan lain, ikut bancakan. Tapi itulah tradisi yang terkadang dilapangan menimbulkan berbagai ekses yang lebih cendrung negatif. Karena pemikiran yang muncul secara bertahap sudah berkembang menjadi luas. Kalau selama kondisi infra setruktur yang rusak itu  sangat menghambat aktifitas masyarakat. Pemikiran dan sikap kritis ditujukan semua kalangan, menggambarkan reaksi liar yang menciptakan gejolak,tuding sana tuding sini. Apakah ketika Infra setruktur itu dipulihkanm\, akan membawa arus ketenangan ?.  Nah disinilah bentuk prilaku, yang selalu muncul. Sehingga menciptakan Nuansa “ Maju Kenak mundurpun kenak “.  Karena pola pikir orang-orang khusus yang berada disekitar infra setruktur yang rusak itu, tadi lagi mengarah kepada perobahan cara berfikir. Bertambah, menjadi “ Ada Can,  tidak ya diproyek ini ?  “ . Kalau satu – satu pihak sedikit kesenggol rezeki atas kegiatan itu, yah  disini pulalah munculnya sikap lain, bisa dalam bentuk kecemburun sosial. Ini sikap manusia, yang sebenarny dipoles kondisi budaya, yang serba kekurangan.

          Masuk kepada masalah Intinya, Kini setidak-tidaknya sekitar lebih enam Kilometer ruas jalan hancur, diwilayah Pesisir Labuhanbatu. Yang selama ini dikenal sebagai Jalan Profinsi Sumut. Kerusakan itu, parah sejak dari kawasan Pangkatan hingga ke dalam wilayah Ajamu. Disanalan rehabilirtasi total itu dilaksanakan yang terpanjang di jalur Kecamatan Panai Hulu, dan Panai Tengah.

          Ada beberapa faktor, penyebab kerusakan tersebut, termasuk faktor alam dan sangat tidak seimbangnya ketahanan jalan klas empat itu. Dengan Truck-truck yang melintas, saat ini sudah berkembang, dimanfaatkan oleh Truck Tankki Pengangkut CPO. Yang diproduksi beberapa Pabrik Pengolahan Sawit dari wilayah  itu. Kerusakan jalan itu yang parah, sudah terjadi beberapa tahun ini. Menimbulkan ekses-ekses sosial, yang menghempang gerak laju perekonomian kawasan wilayah pantai itu.Pihak Perusahaan-perusahaan yang merasa punya dosa atas tambah parahnya kondisi jalan, memang selalu melakukan urun rembuk. Perbaikan yang hanya ala kadarnya, itu terlihat seperti pepatah “ Selimut dua hasta “ Ditarik keatas Kaki Kedinginan. Ditarik kebawah, dada masuk angin. Karena untuk mengatasi masalah, ada dua cara. Perbaiki jalan hingga bagus betul, dan  cegah penggunaan jalan, yang digunakan kenderaan over kapasitas, yang tidak semestinya melintasi jalan itu. Alternatif pertama, akan bisa dilaksanakan. Itu sudah terlihat, alternatif kedua. Akan jadi omong kosong,Kalau jalan hancur kembali, tuding menudingpun akan kembali marak, Instusi yang pertama dan akan terparah terkena landaan tudingan adalah Dinas Bina Marga Sumut, atau UPTnya yang ada di Rantauprapat. Orang lupa menuding, bahwasanya Pihak Dinas Perhubungan yang harusnya mengamankan jalan itu, lolos dari tanggung jawabnya.Kenapa ?, sudah tertanam dalam pemikiran orang, itu jalan Profinsi yang diperankan adalah Dishub Profinsi. Sementara letaknya di Kabupaten Dishub Kabupaten juga tutup mata. Tentunya sasaran tembak, selalu mengarah kepada pihak Dinas Binamarga. Apa Problema selama ini ?, Dinas Bina Marga Sumut, tidak memiliki akses dana yang luas, untuk melakukan Perbaikan Jalan itu. Permasalahan itu, sudah jadi masalah Nasional, negeri ini kekurangan Doku, untuk memperbaiki jalan. Faktanya, Perbaikan jalan tersebut, saat ini itu menurut informasi, didukung “ Dana Talangan BUMN “. Bagaimana pola dukungan itu ?, ada yang bilang BUMN Hany penjamin yang punya uang pihak Bank.Ada lagi yang bilang, itu dana langsung BUMN. Nah terlepas dari itu semua, yang pasti itu memang merupakan Dana Talangan. Dua tahun silam,  terbetik berita bahwasanya untuk  Sumatera Utara, ada nilai uang sebesar Rp.2,7 Triliun, dana talangan yang diperuntukan untuk membiaya perbaikan Kerusakan Infra Setruktur jalan diwilayah Sumut. Dana itu, untuk membangun  Pekerjaan Fisik Proyek, dengan Pola Multi Years. Atau Pekerjaan Proyek dengan  cara Lelang, untuk Pekerjaan Tahun Jamak.

            Tender proyek itu, dimenangkan, sebuah perusahaan PT.Yang sudah punya nama di negeri ini. Namun tarik menarik dananya itulah, Labuhanbatu ketinggalan. Barulah tersentuh pada tahun ini.Nah karena beredar isue, pekerjaan itu didanai, Dana Talangan. Para pemain Proyek yang punya level sebagai Sub.Kontraktor, juga kelihatannya kurang terpikat, untuk nimbrung. Itu terlihat dari isyarat.Pihak Perusahaan mencari Sub.Kontraktor untuk melaksanakan Bahu Jalan, proyek tersebut di dua tempat. Kawasan Bilah Hilir satu Kilometer, dan Panai Hulu sisi lainnya yang lebih panjang. Pihak Sub Kontraktor yang biasa main, sepertinya ragu-ragu. Inti keraguan itu, jelas “ ragu tidak dibayar “. Nah apapun wujud dana tersebut, perlu disyukuri, ada bentuk yang sudah terlihat untuk perbaikan jalan itu, hanya saja bagaimana mencegah percepatan kerusakannya.Sebagai tambahan, dalam pekerjaan proyek ini. Kelihatannya pihak Dinas Bina Marga Profinsi, dan Ujung Tombaknya UPT Rantauprapat, tidak terlalu dilibatkan. Baik secara teknis. Maupun administrasi, yang artinya kalau ingin menderen ke Dinas itu, berkaitan dengan Proyek ini, juga percuma.**  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *