Rantauprapat ( Nusa Raya Expose)
Memang tidaklah etis kelihatannya, ada Papan Bunga diberam jalan-jalan utama Kota Rantauprapat. Yang berisikan apresiasi kepada KPK dan Polri yang melakukan OTT Kepada Erick Adtrada Ritonga. yang nota bene adalah Bupati Labuhanbatu.Sementara Terjadinya Penangkapan Gembong Narkoba Kota ini MB. Yang ditangkap oleh Kepolisian, justru tidak diapresiasi seperti itu. Aksi-aksi semacam ini, memang tidak melanggar hukum disebabkan tulisannya berisikan pujian kepada pihak yang meng OTT. Akan tetapi, ada perasaan-perasaan lain yang terpukul. Seperti diutarakan salah seorang dokter pensiunan PNS, dia kaget dan meminta istrinya melihat Papan Bunga itu. Aku geleng-geleng Kepala, mengapalah Erick itu sudah ditahan, ditangkap, dan akan dijatuhi hukuman mengapa juga harus dibebankan dengan hukuman lain, kata dokter yang sudah tua itu, maklum rekan sejawat. Tertangkap OTTnya Ercik, kini menimbulkan spekulasi. Bermunculan The Late Hero atau Pahlawan Kesiangan. Banyak orang tertanya-tertanya siapa, dan mengapa Bupati itu, di OTT KPK.
Terlepas dari masalah kebencian demi kebencian masyarakat. Bisa jadi direntang kekuasaan Erick itu, banyak laporan dan pengaduan yang masuk ke Institusi hukum, dipoles kebencian masyarakat bisa hanya lepada para TSnya yang semakin hari kelihatan semakin congkak. Nah disinilah Perlu adanya informasi yang harus diperluas, seputar OTT Erick tersebut. Diantara Laporan itu, ada yang harus diketahui. Bahwa dalam kapasitasnya sebagai Sekda Ir.Muhamad Yusuf Siagian , pernah menyampaikan laporan sebanyak 3 halaman, atas terjadinya keburukan system Pemerintah di Labuhanbatu yang sudah dirusak oleh Perbuatan Korupsi. Surat Nomor 180/1700/HUK/2023, dengan Bertanggal Rantauprapat 30 Maret 2023 itu, ditujukan kepada Ketua KPK di Jakarta, dengan tembusan-tembusan ke instansi lainnya. Apapun motivasi Ir.Muhamad Yusuf Siagian,yang juga akhirnya korban harus menjalani hukuman. Laporannya itu, resmi laporan seorang pejabat negara atas perbuatan korupsi dilingkungannya. Itu langka tyerjadi. Dia melaporkan korupsi dari kasus kecil, sampai kaksus besar yang ada di Labuhanbatu, dia gambarkan sejak dari yang kecil “ Nasib Kepling-kepling “ di Rantauprapat beberapa waktu lalu, banyak yang terduduk dibabat, konon kalau tidak mampu bayar Pulsa. Yang nilainya tidak setara dengan kemampuan para Kepling tersebut. Menurut sementara kalangan, bahkan dalam Kopi Morning, yang pernah dilaksanakan Erick dengan Wartawan beberapa waktu lalu. Erick seolah-olah atau sepertinya, dia membantah keterlibatannya dalam masalah Kepling tersebut, walaupun tidak menyebut itu permainan siapa. Memang disini juga ada kelemahan Erick, disebabkan Pemimpin Daerah itu harus bertanggung jawab mutlak didaerahnya, apalagi menyangkut hal fulus, yang bisa bisa merusak namanya, dia memang harus tegas.Tapi Erick tidak lakukan hal itu, sehingga dia tetap di cap terlibat. Masalah Kepling, dan Kadus ini tertera dalam Laporan ke KPK semasa Sekda Labuhanbatu Ir.Muhmmad Yusuf Siagian, kepada KPK. Yah diprediksi itulah dasar penyelidikan KPK ke Labuhanbatu. Melalui surat nomor Nomor 180/1700/HUK/2023, dengan Bertanggal Rantau prapat 30 Maret 202, yang menggunakan Kop Surat Sekda Labuhanbatu. Dalam surat itu, banyak peraktek korupsi di Jajaran Pekab Labuhanbatu yang diungkap Ir.Yusuf Siagian, Dan diungkap pula beberapa nama yang berperan, baik sebagai Pengumpul dana, Pemain langsung. Salah satunya ikut sebagai tersangka KPK, RR.Yang anggota DPRD Labuhanbatu. Yang istrinya adalah Ny.M, Plt.Kepala Dinas Kesehatan Labuhanbatu, ikut ditangkap, kemudian dilepas KPK. Tapi masih banyak nama yang belum tersentuh. Pemasangan Papan nama itu, hanyalah keberanian kecil yang menompang pada situasi. Bila dibanding laporan Sekda itu. Permasalahan sudah ” Bingkas ” Bahasa Melayunya.
Permasalahannya ketika kita mengkaji. Kebencian apa masyarakat kepada Erick, sehingga Papan-papan bunga seperti itu bermunculan. Atau ada makna atau pesan lain dari pemasangan Papan-papan bunga itu, tidak langsung ditujukan kepada Erick. Tapi orang-orang yang berada dalam lingkarannya. Itu mungkin saja. Karena selama ini terlalu banyak ” Penambang ” justru menunggangai nama Erick Adtrada Ritonga, sehingg a ada asumsi mengatakan bahwasanya Erick itu adalah orang yang suka ” Menangguk segalanya, alias Tangguk Rapat ” Penguber Keuntungan, yang membonceng nama Erick masih bekeliaran. Mungkin saja itulah sasaran kebencian masyarakat, hingga Papan Bungapun bermunculan kehadapaan umum. Bentuk-bentuk seperti ini hanyalah sebatas ” Sindiran ” saat ini memang sindiran ini, sudah tidak berdaya, hanya buat orang sekedar mencibir justru geram pada yang membuatnya. Yang efektif itukan, kalau punya bukti yang akurat, mainkan saja.
Sejak Erick Tertangkap, dalam OTT itu. Orang-orang yang tadinya dikenal, begitu reaktif. Dan cendrung memperlihatkan sikap, sebagai orang yang dekat dengan orang berkuasa Labuhanbatu. itu. Sampai yang berani ngomong “ Saya orangnya, familinya Erick “ Enggak ASN enggak Swasta lain, juga oknum-oknum yang menamakan dirinya Wartawan. Nah reaksi masyarakat yang tidak hanya ketawa Bupati Labuhabatu itu, di OTT. Tapi justru memasang Papan Bunga. Ini bisa jadi dialamatkan bukan hanya kepada Erick, tetapi bisa jadi kepada orang-orang berada pada lingkaran Erick. Yang selama ini dikenal, cukup getol garap sana garap sini, terima uang dari sana, terima uang dari sini. Ancam pecat disana, ancam pecat disini. Orang-orang dalam kancah ini, jarang terlihat muncul pasca Erick di OTT KPK. Takut ? ya jelaslah, karena banyak fakta perbuatan mereka. Sementara kemungkinan besar kasus Erick dan kaitannya, bisa saja dikembangkan KPK. Untuk nasib Erick kini, ibarat pepatah ” Kalau Pohon Kiara Condong, Kura-kurapun Pandai Memanjat ” **












