Hari sudah mengarak sore, ketika kami yang melakukan pengukuran kawasan Ijin Lokasi PT.Mitra Sera Jaya, di kawasan Hutan Malindo Desa Sei.Siarti Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhanbatu, tiba disatu lokasi. Hanya sekitar tujuh Kilometer lagi menjelang perbatasan Riau.Jangankan menempuh tujuh Kilometer untuk pulang ke Bes Kem, melagkah seratus meter saja, di kerimbunan hutan bergambut itu sangat sulit. Kami akhirnya menemukan sebuah Pondok, bekas digunakan para Penumbang balok dihutan itu. Disitulah kami menggantungkan harapan untuk ber istirahat. Ada sebelas orang Tim kami yang hadir disitu. Aku sebagai Pimpinan Proyek, Bang Anwar Siregar PNS dari Badan Pertanahan atau ketika itu namanya masih Kantor Agraria Provinsi Sumatera Utara di Medan.Dan Super Visor, Tuan Ustad Andul Rahman Batubara.Mubaligh jebolan IAIN Medan tersebut, mungkin baru kali itu berada ditengah hutan tujuh Kilometer dari Kampung terdekat. Selebihnya kami membawa sembilan orang warga masyarakat setempat, yang kami pilih kuat, untuk tenaga kerja mengangkut kebutuhan dan perlengkapan, serta tugas-tugas lainnya. Membawa mereka tujuan kami juga agar keberadaan kami menerobos Hutan yang terbilang angker itu, bisa berlangsung secara baik. Itu disekitar Tahun 1996, masih dalam lingkup pengaruh Pemerintah Orde Baru.Tiga tahun sebelum orde itu lengser dihajar para aktifis reformasi, yang saat ini kehilangan harapan.
Pondok Pembalok yang kami temukan, memang masih kelihatan Kokoh. Dibuat berlantai tinggi, hampir setinggi manusia tegak berdiri. Kami beberapa orang istirahat didalam Pondok, selebihnya dibawah memasang unggun, sembari memasak air panas, untuk menyeduh Kopi. Pondok itu seluas 2,5 x 2,5 meter. Walau berlantai tinggi, dindingnya dari kulit kayu hanya enam puluh sentimeter tingginya. Nah mengapa seperti itu, penghuni hutan akan menganggap kita tinggal menetap, kalau dindingnya ditutup semua. Mereka akan marah, kita akan binasa karena kita tidak bisa melihat kehadiran mereka.
Aku tidak melihat jam, tapi kuperhitungkan saat itu, baru mencapai pukul 19.00 wib. Disitulah peristiwa menakutkan itu terjadi, tapi mudah-mudahan kami tidak ada yang korban. Semua kami didalam Pondok, dan dikolongnya yang rata-rata warga setempat.Terhenyak Kaget, tiba-tiba ada suara ranting patah, suaranya keras, hanya satu kali. Kami saling berpandangan, dan bertanya-tanya dalam hati. Datangkah dia ?, dia yang dimaksud adalah Datuk Belang, sang Raja Hutan. Lalu disela berpandang-pandangan itu, aku bergumam nyaris tidak terdengar, tapi berharap siapapun yang datang itu mendengar, kataku “ Datuk …aku cucu dari nenekku Raja Sulong Gonta Sori, leluhur penguasa wilayah ini, Raja Pane ? “ sayangnya makhluk itu tidak peduli. Suara ranting-ranting patah kemudian seperti bermunculan. Bagaikan hingar bingar, riuh suara ranting itu seperti bertih yang ada diatas kuali. Namun setiap suara patah, menimbulkan kegaduhan. Keras dan makin ramai. Beberapa orang pekerja warga lokal, menghambur kedalam Pondok mereka ketakutan.Beberapa orang yang kakinya bersenggolan dengan kakiku, aku merasa kaki mereka dingin, bahana takutnya. Kalau mereka orang setempat takut, kami bagaimana ?. Nah disitulah kulihat Ustad Abdul Rahman Batu Bara, beberapa saat mulai berkeringat. Sembari membaca apa yang bisa dibacanya, untuk mengusir keributan Hutan Belantara itu. Aku bisa membaca kecemasan baik Ustad Abdul Rahman Batubara, dan Anwar Siregar staf BPN Sumut tersebut. Penghuni Hutan itu membandel, mungkin statusnya masih Jin Kapir, yang harus dilawan dengan cara-cara sama. Akhirnya Ustad Abdul Rahman Batubara menyerah, dan katanya “ Bah abah la bah …” itu ketika suara-suara itu tidak juga kunjung reda, bahkan makin gegap gempita. Aku sempat bertanya, mengapa harus aku. Tapi orang-orang ketakutan dipondok itu tidak seorangpun lagi yang memberi jawaban. Aku sendiripun lebih banyak tidak yakin terhadap diriku, mampu mengatasi amukan makhluk Hutan itu. Tapi disela kecemasan itu, aku coba menerobos waktu, menelusuri jati diriku.
Seperti yang kukatankan tadi, aku Cucu dari Raja Sulong Gontasori, dari Opung atau Atokku Lobe Uncu Siregar, yang nama aslinya Muhammad Yunus .Raja Sulong adalah Putri Raja Azis, Raja Azis anak Raja Pertama Panai,Abdul Qahar. Yang Makamnya dikeramatkan di Desa Telaga Suka Labuhanbilik. Aku pernah Ziarah ke makam itu, dengan kawanku. Tapi hanya aku yang bisa dengar, suara Auman Harimau. Aku maklum itu, karena ayahku pernah cerita tentang Penghulu Balang yang menjaga kami, wujudnya Harimau Berkaki Tiga, yang pasti dia juga bangsa Jin. Sedikit banyaknya aku penerima warisan leluhur, Mantera-mantera yang berguna untuk situasi terdesak seperti itu, lalu aku merapalnya. Ada satu rapalan yang diajarkan kepadaku, langsung dari adik kandung Kakekku, dia kami Panggil Atok Berhana Siregar, meninggal di Desa Sisomut Kota Pinang. Rapalan yang kugunakan ketika itu, hanya rapalan ” Penjauh ” atau mantera pengusir musuh, ya musuhnya manusia, atau binatang, termasuk lelembut, itu kugunakan. Aku punya banyak Mantera, termasuk Mantera yang sangat menakutkan diriku, tidak pernah kugunakan, tapi hingga saat ini. Kalau saja aku teringat dan mengingat mantera itu, ada resapan rasa panas menjalar ditanganku. Aku menyimpan ilmu itu hanya untuk menjaga budaya leluhur, itulah Ilmu yang menakutkan ” Ilmu Gayung Bisa ” yang bisa digunakan, membunuh orang dari jarak jauh, cukup dengan membayangkan wajah yang akan dibunuh, Namun demi Tuhan aku belum pernah menggunakannya, aku khawatir akibatnya. Dan malam itu di Hutan Malindo, rapalan-rapalan ilmu itu, sangat perlu kugunakan.
Diujung Rapalan Mantera itu, aku membentak, kata orang setempat Menyergah yang harus kusertakan dengan tenaga dalam. Begitu sergahku kulakukan, begitu pula tersambut. Terdengar suara dahan yang patah, suara itu cukup keras, seperti ada tubuh berat bertengger diatasnya. Lantas melompat, tekanan lompatannya menyebabkan dahan itu patah. Dan sesaat tiba-tiba semua suara hingar bingar hilang, hutan itu jadi sepi senyap. aju sendiripun nyaris tidak percaya kemampuan rapalanku, mengusir makhluk halus itu. Sedikit kubuka, dari sekian banyak rapalan yang kumiliki, rapalah inilah yang langsung mnyebut nama ” Allah dan Nabi Muhamad ” Nama Nabi Muhammad, dikepung dengan sebutan ” Baginda Rasullah “. Setelah aman, akupun memerintahkan pekerja yang ketakutan untuk turun kekolong dan buatkan Kopi. Semua mata tertuju padaku, begitu juga mata dari Super visor Ustad Abdul Rahman Batubara. Esok paginya, aku tau penyebab kemarahan penghuni hutan itu, ada pekerja dirombonganku yang BAB seenaknya tanpa minta ijin kepada mereka, mereka merasa terhina. Ustad Batu Bara, Kalau saja dia masih hidup. Tapi keyakinanku, sahabatku yang pernah Bwergabung di Bakopmi atau KPMI itu masih hidup dan tinggal di Medan. Bila dia mengenang peristiwa itu, dia kuyakini akan hanyut kedalam kenangan masa lalu kami, dan dia pasti mengenang peristiwa itu. Aku bisa dihubungi di 082168365194. Dia pasti mengingat siapa aku.*****
