Historis Pengambil Alihan Pemakaman Warga Tionghwa Sirandorung Kini Pasar Gelugur Rantauprapat

Catatan Zulfan Ajhari Siregar Pemimpin Redaksi Nusaraya Expose

           Sebagai Jurnalis muda, yang beraktifitas di Kabupaten Labuhanbatu. Memang aku selalu menjadi sorot pandang, mungkin karena hiver aktif didalam kancah Pemberitaan, Menulis itu , sangat melampiaskan hasratku, karena sebelum aku hadir di Kancah Pers, sejak remaja aku sudah aktif sebagai penulis cerita-cerita pendek dibeberapa Media Masa .

Sejak kecil , sejak aku Pandai membaca koran, aku sudah bercita-cita untuk menjadi Wartawan. Itu panggilan jiwaku. Profesi ini bagi diriku bukan profesi pelarian. Usiaku memang terbilang muda, ditahun 1985 disaat aku mulai debutku, sebagai aktifis Pers yang aktif menulis. Ketika itu, di Kabupaten Labuhanbatu Raya Populasi Wartawan itu, hanya sekitar 57 orang. Itupun  bertebar  di Rantauprapat, Aek Nabara, Aek Kanopan dan Kota Pinang, Serta ada Selamat Berewok di Sungai Berombang. Dan Tahun 1986, sebelas orang kami diantara semua rekan Wartawan membentuk Wartawan Unit Polri Polres Labuhanbatu, setelah ikut dalam Pembekalan PWI-Polda Sumut di Medan, sebagai Wartawan Unit Polri. dimasa Kapolresnya Syofyan Qadri. Mungkin langkah aktifitasku sebagai jurnalis itu terbaca ke Medan, ada pihak yang menghubungi aku. Aku dipanggil menghadap Bang Yazid Pimpinan LKBN Antara di Medan, Tahun 1990 sampai dengan tahun 1996 aku satu-satunya Wartawan didaerah ini, walaupun masih magang tapi sempat bergabung di Kejayaan LKBN Antara itu, di Masa Orde Baru. Dengan reputasi tulisanku mengenai serangan Harimau di Teluk Panji, dilansir BBC London yang mencantumkan namaku.

           Mengenang begitu Panasnya, Pengambil alihan Kompleks Pemakaman Warga Tiong Hwa Sirandorung, yang ingin di Konversi Pemkab menjadi kawasan Bangunan Infra Setktruktur kota ini. Aku perlu menorehkan sejarahnya kembali, agar generasi ke generasi tahu apa sejarah yang pernah terjadi. Kabupaten Labuhanbatu, ketika itu dipimpim oleh seorang Bupati eks Polisi  Abdul Manan Sarjana Hukum. Disinilah serangkai Sejarah Rantauprapat tercipta, yaitu Pengambil Alihan Pemakaman Sirandorung yang kemudian kita kenal sebagai Pasar Gelugur saat ini. Tapi jangan lupa… awal dibangun Pemkab, itu bukan kawasan Pasar. Fungsinya adalah “ Terminal Gelugur “. Ketika Ali Hanafiah, yang mantan Kolonel Angkatan  Darat hadir kedaerah ini, menjadi Bupati di Labuhanbatu, dia mengkritik Terminal Bus Gelugur, karena jalannya bengkok macam siku ” Kata dia “. Dan kemudian Terminal itu dirobah menjadi Bangunan Pasar Gelugur. Semudah itukah, perjalanan pengambil alihan lahan Pemakaman itu ? tidak mudah bro, ada beberapa hal yang perlu dicatat bagaimana warga Tionghwa di Rantauprapat berusaha bertahan, Mempertahankan marwah mereka ketika itu. Walaupun Pemda Labuhanbatu menyediakan lokasi Makam Pengganti. Bahkan kemudian warga Tionghwa daerah ini, merasa tidak mau direndahkan melalui penyediaan lahan pengganti itu. Mereka pada akhirnya memperlihatkan, kalau hanya sekedar menyediakan lokasi mereka juga tidak perlu dibantu. Mereka ingin mengatakan, bertahan di Sirandorung. Bukan karena tidak sanggup cari lokasi pengganti, tapi karena Marwah dan Adat Istiadat serta Budaya mereka. Aku memoles masalah tersebut dengan tulisan-tulisan yang mengungkit masalah ” Hong Sui, dan Feng Sui ” memang ketika konflik yang tidak diwarnai unjuk rasa itu berlangsung. Aku berada dipihak mereka, para warga Tionghwa. Aku bukan menawarkan diri untuk hadir dikancah itu. Tapi aku memang mereka lirik, jadilah aku terompet yang menentang kebijakan Pemda Labuhanbatu, membongkar Kompleks Pemakaman itu.Walaupun aku bukan satu-satunya Wartawan yang mengorbitkan tulisan-tulisan tantangan, atas konversi itu.

          Aku Wartawan hanya dari Koran Kecil Demi Masa, yang merupakan kelanjutan dari Surat Kabar Mercu Suar. Koran keras, koran harian penentang, yang buat pusing Pemerintah Orde Baru. Yang akhirnya di Bredel Pemerintah Orde baru. Disitulah aku bermain tulisan, setelah aku melibatkan diri dalam pertikaian Masalah Sosial pengambil alihan Pemakaman itu, oleh Pemda Labuhanbatu. Aku ada di Kubu Warga Tionghwa Rantauprapat, yang mempetahankan makam keluarga mereka di Pemakaman itu. Aku juga tidak menafikan Yasmir Chaniago  juga ikut berperan, dia punya koran besar Harian Waspada. Dan permainan itu, seru dan seram. Kapten Utama Tim kami adalah Almarhum Buyung Efendy, Anggota DPRD Labuhanbatu dari fraksi PPP Labuhanbatu. Anggota DPRD Labuhanbatu yang paling vokal ketika itu. Yang selalu buat pusing Pemerintah Orde Baru. Masalah Penggusuran Kuburan Tiong Hwa Sirandorung itu . Siapa-siapa saja pemain dari kubu warga Tionghwa di Rantauprapat ini, dan siapa pendukung teras dalam masalah tersebut, inilah dia.

          Pemain Lapangan, namanya Sandikan, sudah almarhum. Orang mengenal dirinya sebagai Ku Chai, orang tua dari Achan, dan  Ahwat Guntur. Veteran yang militan tidak takut untuk aktif dipermukaan. Walaupun  riak-riak Politik ketika itu, justru sudah menyentuh fisik warga Tionghwa sebagai bentuk shock terafi Ala Orde Baru. Barisan kedua, ada Alamrhum Tek Kim, Pengusaha Toko Sepeda yang tinggal di Jalan Sudirman Rantauprapat. Walaupun Tek Kim, diam dan hanya bekerja di Tokonya, tapi pengaruhnya besar, memerakarsai Bertahannya Etnis Tionghwa Kota ini, dalam mempertahankan Pemakaman itu. Aku sebagai pelaku sejarah tahu siapa-siapa saja yang berada dalam barisan itu, yang mendukung Finansial.  Walaupun kemudian ada yang mundur satu persatu, karena takut. Seperti halnya Tan Kim Hie, alias Taniwan. Lalu mengalah memindahkan makam istrinya ke daerah lain.

          Ketika aku diminta untuk ikut nimbrung, sebagai penulis yang teriak-teriak dari Koran, membela kepentingan warga Tiong Hwa itu. Pertama yang kuminta bukan uang, uang sih gampang. Aku minta mereka mencarikan buku budaya Tiong Hwa yang berkaitan dengan “ Hong Sui, atau Feng Sui “. Karena menurutku dari sanalah, aku bisa masuk. Mengukir tulisan-tulisan berdasarkan Budaya orang Tiong Hwa, yang pantang Makamnya di bongkar.  Buku itu mereka dapatkan, dipesan dari Singapura.

           Benar saja, setelah beberapa tulisanku terbit, reaksipun bermunculan. Terutama dari kalangan sendiri senior-senioren Wartawan Labuhanbatu, ada yang menekan aku dengan nada ucapan tak enak “ Membela-bela Cina “. Aku tidak peduli itu, tenang-tenang saja. Tidak semua lawanku, ada juga senior pers yang berkawan sambil ngomong “ Bagi-bagi hasil tu fan, beli rokok dulu “ hehe, aku ketawa,  ya yang namanya rokok kubelikan juga. Itu Bang Husni Hasibuan, Senior Wartawan termasuk Jurnalis yang disegani ketika itu, berpengalaman pernah disiram cuka. Dia suka aktifitasku yang selalu menulis, beberapa waktu kemudian dia sering katakan. Cuma dua orang Wartawan yang kuakui di Labuhanbatu ini, “ Zulfan dan Mawardi (almarhum) “ Katanya. Dia contohkan, Zulfan menceritakan, Mawardi Memberitakan, itu istilah Bang Husni Hasibuan. Itu ungkapan dia masih ditahun 1980-an. Aku Zulfan Ajhari Siregar, Mawardi (alm) dan Yasmir Chaniago, adalah level Wartawan muda ketika itu. Kami bertiga ini bersaing dalam tulisan, bersaing sehat. Tapi warga Tiong Hwa yang mempertahankan Pemakaman Sirandorung itu, lebih cendrung memilih aku sebagai Terompet mereka.

           Disuatu waktu, dimasa masih sengit-sengitnya permainan masalah Pemakaman Tionghwa itu. Marombak Siregar (alm) Humas Pemda ketika itu, memanggil aku.  Dan menyampaikan maksudnya, untuk mempertemukan aku dengan Abdul Manan SH.Bupati Labuhanbatu, Buyung Efendy  sebagai Mentor, tidak keberatan lantas aku dibawa keruang Bupati. Wartawan daerah mana yang tidak bangga, ditunggu Bupati, ketika itu. Tujuannya aku akan dilumpuhkan, dalam aktifitasku, yang dituding ” Membela-bela Cina “.

           Ketika aku masuk keruang Bupati, dia tidak sendirian. Ada Kapolres Labuhanbatu, ada Letkol Nana Sujana (Pak Kumis) Komandan Kodim Labuhanbatu. Lantas dengan gayanya, Pak Bupati itu menyambut aku. Biasalah, itu trik-trik penguasaan mental, sementara aku juga sudah mempersiapkan mental.

           Pak Bupati itu mulai ngomong menceritakan kisahnya, masuk Polisi karena ditampar Polisi, lalu dia juga katanya pereman. Dalam hatiku, preman ya premanlah pak, yang penting cemana Ending dari pertemuan itu. Itulah yang kutunggu. Yang akhirnya kudapatkan. Bupati yang sudah ngomong panjang lebar tersebut. Akhirnya menyuruh aku “ Jumpai Jalal “. Siapakah Jalal, Pak Jalaluddin adalah Kepala Bahagian Pembangunan Kantor Bupati Labuhanbatu. Ketika itu, yang mengurusi borongan Proyek, adalah Dia, Ka.Bag Pembangunannya. Usai dari ruang Bupati, aku langsung menemui dia, aku selalu memanggil dia dengan sebutan “ Uwong” Karena dia Orang Kualuh.

           Masih dipintu Kantor, Jalal sudah ngomong. “ Sudah-sudah, aku sudah ditelepon Bupati, kita tunggu saja ya “. Nah bagian ini, tidak perlu keperjelas. Rusaknya Idealisme Watawan itu, salah satu penyebabnya tidak lepas dari ditaklukan berdasarkan kebutuhan kehidupannya. Dan dimasa itu, juga perlu ” Jaga Keamanan Diri ” terlalu keras, konsekwensinya tidak main-main. Aku paham betul tentang itu, walaupun Pak Fauddin Daulay almarhum, Pemimpin Redaksi Demi Masa, tempat aku bekerja, dan menimba ilmu. Dia menyukai tulisan-tulisan kerasku, begitu juga H.Bakhtiar Khamsah, yang pernah jadi Mensos RI, dia juga selalu mengacungkan jempol untuk tulisanku. Toh mereka juga ingatkan agar aku selalu berhati-hati. Aku paham maksudnya, dimasa itu. Dimasa Rezim Orde Baru. Pemerintah Orba yang tidak suka dikritik Pers.

           Memang, aku nyaris bungkam membela warga etnis Tionghwa itu. Semakin bungkam, ketika dua Wartawan Senior, menyodorkan satu surat kepadaku. Kata mereka “ Teken la fan, kita dapat kapling di lokasi itu “. Maksudnya dilokasi Pemakaman Tionghwa tersebut yang dimohonkan mereka tunjuk. Kira-kira lokasinya, dibahagian Kantor Dinas Pasar saat ini, itu kata mereka pra karsa rekan-rekan Wartawan. Entah memang bermohon betul-betul atau hanya sekedar ingin melumpuhkan aku, yang sudah ikut meneken permohonan itu , yang artinya aku sudah setuju kalau pemakaman itu, dibongkar. Wartawan senior yang mendatangi aku, yang tidak perlu lagi kusinggung namanya, mereka hanya senyum-senyum saja. Ketika Aku kalah……aku menyerah, walau disatu pihak, finansial, aku dapatkan. Itulah buruknya dunia politis, yang mengintervensi Pers, sampai saat ini kondisi seperti itu jelas masih ada. Tapi yang pasti yang namanya Wartawan itu, harus punya sikap. Dan jangan menjadi ” Pengemis Intlek, kebutuhan hidup, tidak selalu harus digadaikan, melalui rusaknya system yang sudah dibangun ” Ratu Dunia “. itu sebutan untuk Wartawan. Napoleon lebih hebat lagi stempelnya, katanya “Dari Pada Seribu Perajurit, Lebih Berbahaya Satu Pena Wartawan” Namun juga harus dikaji dan dipastikan, Wartawan yang seperti apa itu Yang dimaksud Ompung Napoleon ?. ****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *